Tetap Tersenyum Meski Dunia Berpaling

senyum itu ibadah
Kali ini aku memang harus tetap tersenyum meski dunia ini berpaling dariku. Tulisan yang sudah aku buat dengan penuh antusias akhirnya lenyap tersisa tinggal judul belaka. Tapi tak apa tetap tersenyum, seperti para pejuang kecil yang mampu tersenyum meski dunia berpaling...


      Mendapat tugas istimewa untuk menulis ini, aku jadi teringat sepenggal cerita masa laluku. sebuah kata yang bergabung menjadi kalimat tercetus dari seorang sahabat yang kini telah tiada. suatu pelajaran hidup yang awalnya tidak pernah aku resapi bahwa semua hal akan selalu berarti. Sekecil apapun hal tersebut, cermati dan resapi maka kamu akan tahu rahasia dibalik hal tersebut. Rahasia yang nantinya akan menjadi benteng dan membekalimu untuk meraih kebahagiaan yang sebenarnya, Hal apapun itu, pasti bisa kamu pelajari sampai akhirnya kamu mati
     Pada awalnya pesan tersebut hanya seperti omelan orang tuaku. Masuk kanan, keluar kiri. Namun karena ada suatu masalah dan peristiwa akibat bencana alam yang aku alami sendiri yaitu gempa bumi 2006 silam, aku mulai sedikit berpikir betapa kecilnya kita. Miris melihat korban dimana-mana. Tetapi lebih miris lagi karena setelah bencana tersebut, pendistribusian bantuan ruwet bahkan sempat ada kasus seorang korban gempa sengaja merubuhkan rumahnya yang masih kokoh agar mendapat bantuan rumah. Krisis sosial.. Tetapi aku hanya bisa memandang dan berkata di dalam hati karena saat itu aku masih anak bawang yang menduduki bangku SMP.
      Selang beberapa tahun kemudian semuanya berangsur membaik. Peristiwa itupun berangsur terlupakan dan aku kembali menjadi anak manja yang hanya mengejar kesenangan pribadi hingga akhirnya semua kesenangan itu hanya seperti fatamorgana.
      Meskipun hanya kesemuan yang aku dapat namun tetap aku jalani dengan harapan ada hal baru yang berbeda. Akhirnya akupun mendapatkan hal tersebut melalui peristiwa erupsi merapi. Aku bergabung dengan teman-teman di kampus UIN menjadi relawan merapi. Kitapun berhasil mendirikan posko sendiri dengan bimbingan Sekda Kutai Ibu Hj Sri Dewi Nirmala Santi. Meskipun dari pihak kampus sedikit mempesulit kinerja kita untuk membuka posko sendiri karena kita para mahasiswa masih seumur jagung, tetapi akhirnya luluh juga dengan hati ikhlas dan muka melas kita kali ya..
      Banyak hal yang berbeda saat menjadi relawan. Mengorbankan waktu main, jauh dari keluarga, bahkan yang awalnya sedikit susah yaitu harus tidur tanpa alas, makanpun seadanya. Sangat sederhana, jauh dari kemewahan dan segala sesuatu yang biasanya instan. Dari situlah mata hatiku mulai terbuka lebar. Harta bukanlah kunci kebahagiaan karena kebahagiaan sejati itu datangnya dari hati.
      Setelah menjadi relawan merapi, aku berusaha lebih dewasa dalam memahami kehidupan ini. Sedikit demi sedikit menghapus kesenangan sesaat yang hanya akan menyesatkanku, dan selalu mengikuti kegiatan positive hingga akhirnya aku bisa bergabung dengan FSG Tunas Bangsa Jogja melalui suatu seminar dari OBAH.Akupun banyak belajar dari para pejuang kecil yang mampu tersenyum meski dunia berpaling.
      Terkadang dunia ini diprogram untuk berpaling dari kita. Menghancurkan mimpi-mimpi yang telah kita bangun hingga mematahkan cita-cita dan harapan yang kita impikan. Namun program tersebut merupakan program terbaik supaya kita selalu ingat kepada-Nya, patuh kepada perintah-Nya dan tidak terlena pada kenikmatan dunia yang hanya sesaat.
        Tuhan menciptakan kesedihan agar kita mampu merasakan kebahagiaan. Meskipun dunia telah berpaling dari kita, namun kebahagiaan akan selalu bersama kita apabila kita bisa memaknai hidup ini dengan kebaikan, ketulusan dan keikhlasan karena masih ada tempat yang menyimpan kebahagiaan abadi yaitu SURGA.



Present by:
                   -Nidya Tiya Vitri-
Share on Google Plus

FSG Tunas Bangsa

Family Supporting Group (FSG) Tunas Bangsa adalah organisasi non-profit yang didirikan di bawah Yayasan Bunga Bangsa Jakarta dan Yayasan Tunas Bangsa Jogja dengan tujuan mendampingi pasien dan keluarga pasien dengan penyakit Thallasaemia, Haemofilia dan Kanker Darah pada pasien Anak di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
    Blogger Comment