Tentang Saya dan FSG


kegiatan di ruang nuri

Kereta Prambanan Ekspres melaju dengan kencang. Beberapa penumpang terlihat duduk di lantai, hal yang sudah biasa saya lihat ketika pada jam-jam sibuk kerja atau bertepatan hari Minggu. Kereta ini memang cukup banyak penggemarnya. Selain harga tiket yang relatif murah,yakni sembialn ribu rupiah sekali trayek, juga keadaan gerbongnya yang lumayan bersih. Ini setelah saya lihat, PT.KAI berusaha mengoptimalkan kereta ini.

     Yang istimewa dari kereta api Prameks adalah karena menyediakan gerbong khusus wanita. Selain itu warna cat gerbong ada yang menarik dan memikat hati yakni warna kuning kehijauan dan ungu. Mungkin yang pertama itu saya salah mengartikan, karena kadang kereta jurusan Madiun (Madiun Jaya) yang berwarna cerah juga,sering dipergunakan para penumpang kereta api Prameks. Kami, para penumpang melewati beberapa stasiun kecil sebelum sampai ke stasiun Lempuyangan, tujuan saya.Ada dua kali kereta api  sempat berhenti yakni di staiun Klaten dan stasiun Maguwo.

     Sesampai stasiun Lempuyangan sekira pukul setengah sembilan. Berarti masih ada waktu setengah jam sebelum acara dimulai. Berjalan keluar sebentar dari pintu stasiun lalu saya hampiri taksi. Perjalanan ke rumah sakit tak sampai memakan waktu lima belas menit.

    Saya melirik arloji yang melingkar di tangan saya. Benar, masih ada lima belas menit waktu menunggu. Saya berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit Dr. Sardjito. Tiga tahun sudah saya tak melangkahkan kaki di sini. Ada sedikit perubahan rupanya. Sekarang disediakan shelter khusus pejalan kaki yang terdapat di samping utara jalan masuk rumah sakit. Lumayan bagus, karena ada semacam tanaman merambat yang tumbuh diantara 'atap' sepanjang koridor.

     Sampai juga di 'Klinik Tumbah Kembang Anak'. Di depannya ada semacam tulisan penunjuk Ruang Melati.
     "Mbak tahu Ruang Melati, kan? Ruang Nuri ada di dekat ruang itu," bunyi SMS yang saya ingat dari Mba Indri, teman saya.
     Sesaat saya mencari tempat duduk yang nyaman supaya dapat berkirim pesan kepada Mba Indri. Namun sesosok tubuh yang berjalan dari kejauhan sempat mengalihkan perhatian. Wajahnya sangat akrab dengan ingatan saya.
    "Ibu Dokter Nurul? iya, tak salah lagi. Residen Nurul, kan?" kata saya mebuka percakapan sambil menjabat erat tangan perempuan bertubuh langsing itu.
     Dokter Nurul menyambut uluran tangan saya, lalu dengan mimik yang bisa saya baca, langsung saja pembicaraan saya teruskan.
     "Saya ibunya Asa. Bu Nurul ingat, kan?"
     "Oh, iya, saya ingat. Bagaimana kabar ibu sekeluarga?" tanyanya.
     "Kami baik-baik saja, Bu. Lho, kenapa ibu masih 'di sini'? pertanyaan saya lanjutkan.
     "Itulah, Bu. Saya lagi menempuh ujian saat ini. Doakan ya, Bu, agar saya segera lulus. Ini baru mengurus ujian saya, " jawab residen Nurul panjang lebar. Wah, benar saja perkiraan saya dengan masih memanggilnya Residen. Rupanya, ini saat-saat terakhir studinya di sini. Memang saya terkadang rancu, dengan menyebut Residen sebagai dokter. Padahal di rumah sakit ini, biasanya yang dipanggil dengan 'pak' atau 'bu' dokter adalah mereka yang sudah menyandang dokter spesialis dan berlaku sebagai dosen bagi para residen.

     Pembicaraan berhenti karena Residen Nurul melanjutkan langkahnya setelah sebelumnya kami saling berjabat erat.
     Saya buka handphone kembali, lalu menuliskan pesan kepada Mbak Indri, teman baru yang sungguh, saya mengenalnya hanya di facebook beberapa hari sebelumnya.

     "Mbak, saya sudah sampai di depan pintu masuk Ruang Melati. Maaf, saya menolak tawaran Mba Indri kemarin untuk menjemput saya di stasiun."
      Tak begitu lama, langsung terbaca jawaban.
     "Oke, Mbak tunggu saja. Saya segera meluncur."
     Seorang bapak terlihat menemani putrinya yang sedag didorong oleh seorang perawat dengan kursi roda.
     "Maaf, Pak. Bapak tahu Ruang Nuri?" tanyaku yang segera dijawab oleh si bapak dengan perkataan yang mengisyaratkan bahwa dia belum mengenal ruang itu. Mungkin anaknya pasien baru, jadi benar, dia tidak mengetahui.
     "Mbak Astuti ada di mana?" bunyi SMS Mba Indri.
     "Saya di depan pintu masuk Ruang Melati, Mbak. Dekat Klinik Tumbuh Kembang."

     Tak berapa lama datanglah teman saya itu, duuuuh...ini kali pertama  perjumpaan saya dengan seseorang yang dalam beberapa hari sebelumnya saya rindukan untuk bertemu. Kami berpelukan hangat, setelah masing-masing mengenalkan diri.

     "Mbak, kenapa tadi SMS nya tidak di stasiun? sehingga saya bisa jemput," katanya membuka pembicaraan.
     "Oh, saya masih ingat jalan menuju ke rumah sakit ini, kok, Mba.." jawab saya bercanda.
     Setelah melangkahkan kaki melewati ruang-ruang dan beberapa anak tangga, maka sampailah di Ruang Nuri.
     "Kenalkan, ini Bu Astuti," kata Mbak Indri memperkenalkan saya dengan dua temannya, Bu Nina dan Bu Kristi.
     "Kami sempat mengenal nama Ibu beberapa waktu yang lalu saat akan launching buku Ibu di Mizan Book Corner. Pada waktu itu owner atau  pengelola masih dipegang oleh teman kami, Bu Alida Assegaf," kata Bu Nina dan Mbak Indri hampir bersamaan.

     "Saya juga berasal dari Solo, Bu. Orangtua saya masih tinggal di sana," kata Bu Nina melanjutkan pembicaraan. Sesudahnya, baru saya ketahui nama lengkapnya adalah Sakinah Muhammad dan bergelar Dokter Gigi. Dia membawa seorang putrinya yang cantik, sekira umur sepuluh tahunan.

     Pembicaraan kemudian terhenti. Saya melihat Bu Kristi, koordinator, dan beberapa relawan FSG Tunas Bangsa sedang mempersiapkan LCD untuk memutar sebuah film bagi anak-anak nanti. Ruang Nuri yang berukuran tidak lebih dari lima puluh meter persegi ini cukup representatif kiranya bagi berkumpulnya para relawan dan pasien anak di sini.

     Tak berapa lama, datanglah para anak-anak  yang disertai oleh orang tua masing-masing dan beberapa suka relawan pendamping.
     Film pun diputar dan saya melihat anak-anak suka dan antusias sepanjang durasi sekira satu setangah jam.Film yang menceritakan tentang petualangan Paddle Pop. Saya pun turut menyimaknya, diselingi dengan beberapa pembicaraan dengan Mbak Indri.

     "Mbak, Minggu depan kami mengadakan acara pembekalan. Saya mohon, mbak bisa hadir. Nanti kita akan melihat betapa antusiasnya para relawan, baik yang lama maupun yang baru. Acara pembekalan salah satunya akan diisi oleh Pak Dokter Pujo." jelas Mba Indri.

     Pemutaran film pun usai. Saya melihat para relawan kembali mendampingi para pasien dan orang tuanya kembali ke sal masing-masing.
     "Nanti ada acara pemberian bingkisan berupa snack dan susu dari donatur bagi para pasien. Mba ikutan mengantar ya?" kata Mbak Indri.

     Benar saja, setelah acara pemutaran film, selanjutnya adalah kunjungan kepada pasien anak-anak ke sal masing-masing untuk menyerahkan bingkisan.
    Saya dan Mbak Indri serta seorang relawan menuju sal anak dan mengetuk pintu satu -persatu untuk memberikan bingkisan. Oleh Mbak Indri, sayalah yang disuruh menyampaikan langsung kepada anak atau orang tua pasien. Sementara ada tiga orang relawan lainnya yang juga berbagi.

     "Pak, ini ada bingkisan snack dan susu dari donatur untuk anak bapak, " kunjungan pertamaku ke sebuah sal dengan beberapa pasien bayi yang tergolek di tempat tidur. Ada tiga tempat tidur di sini.
     Tiba di Ruang Estella.
     "Namanya Tasya, Mbak. Dia sudah mengikuti acara kita sebanyak tiga kali. Ini, lihatlah gambar kartu cantik yang menempel di dinding, " kata Mbak Indri menjelaskan kepada saya.
     "Oh, namamu Tasya ya? wah, cantik ya kamu, pintar lagi, " kata saya melanjutkan sambil saya jabat erat tangan Tasya.

     Tasya tersenyum.
     Tiba di ruangan isolasi. Saya melihat seorang pasien anak laki-laki umur belasan tahun didampingi oleh seorang bapak. Mba Indri yang ditemani kamera di tangan dan seorang relawan yang membawa sekantong plastik besar berisi  bingkisan berada di depan pintu dan tak boleh ikut masuk.
     "Ini ada bingkisan snack dan susu dari donatur untuk anak bapak, " kata saya.
     "Terima kasih ya, Bu. Sampaikan juga rasa terima kasih saya untuk donatur, " si bapak menjawab.
     Setelah acara pemberian bingkisan selesai maka salam perpisahan diucapkan oleh teman para relawan dan berharap Minggu berikutnya bisa bertemu lagi. Saya melihat senyum cantik dan ikhlas Bu Kristi mengembang tatkala menyambut uluran tangan saya. Pun para relawan yang telah bekerja hari itu.

     "Mbak akan saya antar ke mana pun Mbak akan pergi setelah acara ini. Maaf, tapi saya cuma membawa sepeda motor, " kata Mbak Indri sambil memboncengkan saya sepeda motor. Duuuuuh, mba Indri rupanya belum tahu, kalau saya malah suka bersepeda angin, jadi tak apalah jika naik motor.

     Toko buku Mizan. Itulah tujuan saya dan Mba Indri melajukan sepeda motor menyusuri jalanan kota Jogja yang lumayan ramai di hari Minggu.
     Ada beberapa eksemplar buku 'Asa, Malaikat Mungilku' yang akan saya beli. Hari itu saya harus bersabar karena buku sudah habis di pajangan dan stok ada di gudang yang pada hari minggu tidak ada petugas berjaga.
     "Mbak, di tempat inilah kami dulu membicarakan tentang grup yang kita bentuk. Kami sering mengadakan pertemuan di sini saat Bu Alida masih memegang tempat ini. Sekarang beliau berada di Jakarta, " kata Mba Indri menjelaskan.
     Perjalanan dilanjutkan ke kost-an Brita. Ya, sejak beberapa hari sebelumnya saya telah memberitahukan kepada Mba Indri apabila Brita, anak saya pun ingin ikut bergabung dalam FSG Tunas Bangsa.

     Setelah saling berkenalan maka Mbak Indri berucap pamit seraya menyampaikan undangan tentang pembekalan yang akan diadakan minggu berikutnya.
     Beberapa waktu beristirahat di dalam kamar kos Brita, saya sempatkan menulis beberapa kalimat di dalam handphone yang saya bawa.                                        



Sungguh, aku telah jatuh hati kepada anak-anak itu.
Aku ingin kembali untuk mereka minggu depan.
Semoga bisa.


Oleh : Astuti J Syahban
Share on Google Plus

FSG Tunas Bangsa

Family Supporting Group (FSG) Tunas Bangsa adalah organisasi non-profit yang didirikan di bawah Yayasan Bunga Bangsa Jakarta dan Yayasan Tunas Bangsa Jogja dengan tujuan mendampingi pasien dan keluarga pasien dengan penyakit Thallasaemia, Haemofilia dan Kanker Darah pada pasien Anak di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
    Blogger Comment